Quantcast Rumah Bunda Riri <title>TAKUT

Jumat, 28 Maret 2008

TAKUT

Aku bingung dan takut.
Entahlah sepertinya ada yang salah dengan hubunganku selama ini. aku cuma nggak mau anakku sepertiku. Dulu kedua orangtuaku super..super sibuk. aku tumbuh menjadi anak yang sangat jarang bertemu dengan orangtuaku sendiri. Bangun pagi, sekolah, pulang, senja dan malam tiba, aku tetap sendiri. Tdk ada yg bertanya bagaimana hariku disekolah atau bagaimana aku bi mengerjakan PR-ku. Aku benar2 anak yg kurang perhatian orangtua.
Untungnya aku lampiaskan semua kekesalanku dgn kegiatan2 positif seperti les bhs inggris, komputer, piano, aktif di kegiatan sekolah, jadi wakil ketua osis bahkan eskul karate aku ikuti. Disekolah aku selalu rangking bahkan ketika kuliah aku terpilih mendapatkan 2 beasiswa dan menjadithe best student se-fakultas. Lulus dgn ip dan predikat sangat memuaskan. Tapi kulihat tidak ada kata-kata bangga yang terlontar dimulut ke 2 orangtuaku pada saat wisudaku. bahkan saat2 yang seharusnya aku bahagia itu mereka bercerai!
Aku sedih..benar2 sedih. aku anak yang tumbuh dijejali dgn uang,tp sebenarnya aku tdk menginginkannya. Aku tumbuh dgn prinsip uang bukanlah segalanya. uang bahkan tidak dapat membeli kebahagiaan untukku.
Kini aku sedih dan bingung. belahan jiwaku, ayah dari anakku ternyata tdk sependapat dgn prinsip itu. suamiku mungkin punya masa kecil yang berbeda dgnku.padahal aku jatuh cinta padanya krn aku pikir dia orang yang tepat dibandingkan sang hakim yang dijodohkan mama krn mama pikir sang hakim bisa membuatku bahagia..tentunya dgn uangnya.
Aku menolak dan nekat menikah dgn suamiku dan benar2 hidup dari Nol. saat itu aku melihat ada sebersit kekecewaan dalam diri suamiku setelah tahu dan menyadari satu-satu harta yg diberikan orangtuaku diambil dan dijual mama. mobil, perhiasan dll karena setelah mama bercerai dan papa meninggal dunia, perekonomian mama semakin terpuruk. Tapi aku tidak mempermasalahkan itu selama aku bahagia dan suamiku selalu disampingku.
Suamiku mungkin menyesal menikah denganku sekarang. Aku miskin... tapi aku bahagia selama dia selalu mencintaiku. Sedikit demi sedikit kami bangkit dan akhirnya setelah sekian tahun, suamiku diterima kerja di perusahaan asing yg cukup besar. sungguh aku takut..apalagi skrg setiap hari pulang jam 08 sampai 12 malam. sabtu minggupun tetap masuk bekerja lembur. aku takut..aku sendirian lagi seperti masa kecilku.
Aku takut anakku sepertiku. setiap kuminta sedikit perhatiannya, pasti berujung kesalah pahaman. dia selalu memakai alaSan yg sama yg dipakai ke2 orgtuaku. Uang! Suamiku ingin punya mobil, rumah, dan gaji yg lebih dengan menggadaikan kebahagiaanku dan anaknya. aku ingin teriak kalau uang bukanlah segalanya. aku ingin memberitahunya kalau waktunya sehari 24 jam terbagi 15 jam bekerja, 8 jam tidur dan cuma tersisa 1 jam untukku dan anaknya. cuma 1 jam!
Aku ingin teriak mengapa dunia ini begitu tidak adil padaku, tp lidahky kelu tercekat dan bibirku membisu. aku diam dan membiarkan tetes air mataku jatuh dan membiarkan suamiku berteriak dgn penuh emosi krn merasa aku tdk mendukungnya bekerja, tdk mendukungnya untuk memberi nafkah yg lebih untukku dan anakku.
Sungguh bukan itu maksudku.... aku sangat mendukungnya, tp aku juga ingin perhatiannya, bukan cuma materi. aku tdk takut tdk punya apa-apa selama aku bahagia bersatu dan berkumpul. Tapi skrg aku benar2 takut. aku takut tdk bisa sejalan lagi dgnnya, aku takut dia akan menganggap aku tidak ada krn jarang bertemu. aku takut anakku iri dgnteman2nya yg bisa bermain dgn ayahnya dihari libur ke lapangan atau menemaninya berenang . aku benar2 takut. aku takut akan selalu datang ke acara atau undangan sendirian. aku takut untuk punya anak lagi. siapa yang akan menemaniku berbagi suka duka. siapa yg menolongku jk terjadi sesuatu. aku takut tidak bisa berbicara lagi dengannya. aku takut sendiriann.
Aku takut dimasa tuaku seperti mama yg hidup sendirian dan menghadapi permasalahan hidup sendiri. aku ingin dimasa tuaku ada yg mendampingiku. melihat dan bermain dgn cucu bersama-sama, berolahraga dan jalan2 berdua sambil berpegangan tangan lalu orang-orang akan melihat kami dengan kagum. Ya Allah aku benar-benar takut....

4 komentar:

Takashi Adrian Syukur mengatakan...

Turut simpati dgn Penderitaan Anda.. Semoga Allah swt memberikan jalan keluar cepat atau lambat..
:-)

azmiel mengatakan...

Saya lagi ada dibalikpapan.

Erik mengatakan...

Hemm tulisan ini masih asli curhatnya bunda.

Semoga keadaan menjadi lebih baik ya

dhie mengatakan...

Semoga ada solusi yang baik ya Bun... ;)